Mengapa Risih Terhadap Anugerah?

Oleh : Arie Saptajie

Kita senang membicarakan dan membanggakan ketaatan dan kesetiaan pribadi kita.

Anugerah, sebaliknya, berfokus pada ketaatan dan kesetiaan Kristus.

Zakeus, karya Niels Larsen Stevns

***

Kita senang ikut berperan dalam karya keselamatan; kita ingin jerih-payah dan amal ibadah kita ikut diperhitungkan.

Anugerah menegaskan, “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri.”

***

Kita senang dimotivasi untuk menjauhi dosa demi membuktikan kesalehan kita: agar lebih kudus, agar lebih layak, agar diberkati dan disayangi Allah. Kita mengira, perilaku kita akan membentuk identitas diri kita. Kita mengira, identitas kita sebagai anak Allah dapat diupayakan melalui kesalehan kita.

Anugerah, sebaliknya, memotivasi kita untuk berkata tidak kepada dosa dengan mengingatkan kita akan identitas baru kita: bahwa kita sudah dikuduskan, bahwa kita sudah dilayakkan, bahwa kita sudah diberkati dan dijadikan anak kesayangan Allah. Anugerah mengajarkan, kesadaran akan identitas sejati kitalah yang akan membentuk perilaku kita. Anugerah mengajarkan, identitas kita sebagai anak Allah adalah karunia Allah karena kebaikan-Nya–suatu karunia yang kekal: sekali anak tetap anak. “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

***

Kita senang dimotivasi untuk berusaha lebih keras lagi, lebih radikal lagi, lebih taat lagi, lebih kudus lagi, berjuang untuk setia sampai mati.

Anugerah, sebaliknya, memotivasi kita untuk rileks, untuk tidak perlu ngoyo, karena kita sudah dibenarkan dan dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh kesetiaan dan ketaatan Kristus.

Anugerah mengundang kita berusaha sungguh-sungguh untuk menerima istirahat yang dijanjikan Allah: “Engkau lelah-lesu? Berbeban berat? Kewalahan oleh berbagai ritual agamawi yang tidak mendatangkan damai sejahtera? Datanglah kepada-Ku. Tinggalkan semuanya itu dan berjalanlah bersama-Ku, maka kehidupanmu akan dipulihkan. Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana menikmati kententeraman yang sesungguhnya. Berjalanlah bersama-Ku dan bekerjalah bersama-Ku–perhatikan bagaimana Aku melakukannya. Belajarlah menikmati aliran irama anugerah yang tidak ngoyo. Aku tidak akan menanggungkan beban yang berat atau timpang kepadamu. Teruslah berjalan bersama-Ku dan engkau akan belajar menjalani hidup secara merdeka dan leluasa” (terjemahan bebas Matius 11:28-30 versi The Messages dan Amplified Bible).

***

Kita mengira anugerah hanya diperlukan untuk memperoleh keselamatan, dan sesudah itu kita harus mempertahankan keselamatan tersebut dengan ketaatan dan kesetiaan kita.

Anugerah mengajarkan, “Mengenai hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” dan “Dia… berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan… membawa kamu tanpa bernoda dan dengan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya.”

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *