“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”
Liturgia mengacu kepada kata dalam bahasa Yunani leitourgia, yang berarti kerja bersama dan karya publik. Selanjutnya kata ini identik dengan Gereja dan dalam perkembangannya mendapatkan makna yang lebih luas tapi sekaligus mendalam : keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah.
Dalam dunia yang dianggap tanpa batas dan berlari begitu cepat, orang merasa dapat melakukan apa saja dan berperilaku apa saja. Kebebasan dan kreatifitas tanpa batas dianggap sebagai syarat utama terciptanya dunia yang lebih baik. Mungkin banyak kemajuan telah tercapai, tapi seperti kisah menara Babel, semakin tinggi sepertinya semua kondisi yang dianggap baik ini akan menuju kehancuran. Faktanya dunia saat ini dipenuhi dengan ketidakadilan dan hilangnya kewajaran. Keselarasan dengan alam dan Pencipta makin menjauh dari harmoni. Batas diperlukan agar tujuan menjadi jelas, ada ruang untuk udara dapat dihirup, dan ada ruang untuk berhenti dan belajar menghayati kembali bahwa kita adalah garam dan terang dunia__yang memerlukan batas atau ruang agar tetap bisa menyala dan tidak terlalu asin.
Liturgia menyediakan konten yang mengajak kita belajar, membuka wawasan, dan memberi inspirasi dalam proses : keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah.